Hatimu adalah pasir.
Kesabaranmu ombak.
Amarahku seperti kaki yang seringkali menjejak-jejak pasir.
Seperti apapun bekas kakiku pada pasir, ombak selalu menyapunya.
Entah mengapa kau bisa.
Terinspirasi dari kalimat 'Dee' Dewi Lestari pada bukunya Rectoverso.
"Yang tak paham akan dahsyatnya api, akan mengobarkannya dengan sembrono."
Jakarta, 14 Februari 2013
Lascio mia penna correre, cosi la gioia di scrivere crescera. I let my pen runs, thus the joy of writing will happen...
Thursday, February 14, 2013
Tidak Lagi
Ada saat di mana cinta tidak pernah menemukan jalannya. Meski telah dituntun.
Ada kalanya hatimu tetap beku meski maaf yang hangat dan sungguh-sungguh telah diucapkan.
Ada waktu di mana kamu memaksakan segalanya tetap berada di tempat, meski sepertinya ada kebosanan yang mengintip di balik tembok.
Ada. Semua ada waktunya. Dan waktulah yang membuat semua menjadi serba "tidak lagi".
Jika saat itu muncul, masihkah kita percaya akan kata "selamanya"?
Masihkah kita bahagia sampai lupa berjaga-jaga?
Atau bersedih sampai lupa berharap suatu hari yang kita yakini akan berbeda?
Jakarta, 14 Februari 2013.
Ada kalanya hatimu tetap beku meski maaf yang hangat dan sungguh-sungguh telah diucapkan.
Ada waktu di mana kamu memaksakan segalanya tetap berada di tempat, meski sepertinya ada kebosanan yang mengintip di balik tembok.
Ada. Semua ada waktunya. Dan waktulah yang membuat semua menjadi serba "tidak lagi".
Jika saat itu muncul, masihkah kita percaya akan kata "selamanya"?
Masihkah kita bahagia sampai lupa berjaga-jaga?
Atau bersedih sampai lupa berharap suatu hari yang kita yakini akan berbeda?
Jakarta, 14 Februari 2013.
Tuesday, December 11, 2012
Le plus beau poeme d’Hugo. Puisi terindah Victor Hugo
Demain, dès l’aube…
Demain, dès l’aube, à l’heure où blanchit la campagne,
Je partirai. Vois-tu, je sais que tu m’attends.
J’irai par la forêt, j’irai par la montagne.
Je ne puis demeurer loin de toi plus longtemps.
Je partirai. Vois-tu, je sais que tu m’attends.
J’irai par la forêt, j’irai par la montagne.
Je ne puis demeurer loin de toi plus longtemps.
Je marcherai les yeux fixés sur mes pensées,
Sans rien voir au dehors, sans entendre aucun bruit,
Seul, inconnu, le dos courbé, les mains croisées,
Triste, et le jour pour moi sera comme la nuit.
Sans rien voir au dehors, sans entendre aucun bruit,
Seul, inconnu, le dos courbé, les mains croisées,
Triste, et le jour pour moi sera comme la nuit.
Je ne regarderai ni l’or du soir qui tombe,
Ni les voiles au loin descendant vers Harfleur,
Et quand j’arriverai, je mettrai sur ta tombe
Un bouquet de houx vert et de bruyère en fleur.
Ni les voiles au loin descendant vers Harfleur,
Et quand j’arriverai, je mettrai sur ta tombe
Un bouquet de houx vert et de bruyère en fleur.
Victor Hugo, extrait du recueil «Les Contemplations»
Tomorrow, at dawn, at the hour when the countryside whitens,
I will set out. I know you are waiting for me.
I will travel through the forest, and over the mountains,
I can no longer remain far from you.
I will walk with my eyes fixed upon my thoughts,
Seeing nothing around me, hearing no sound.
Alone, friendless, my back curved, my hands crossed,
And the day, for me, will be as the night.
Now that Paris, with its cobbles and marble,
And its hazy rooftops are so far from my eyes;
Now that I am beneath the branches of the trees,
I can marvel at the beauty of the skies.
Now brought to a standstill by these divine visions,
Plains, rocks, forests, valleys and silver streams,
Seeing my insignificance, and seeing your miracles,
I come to my senses before this immensity.
We only ever see one side of a story;
The other side is plunged into dark and fearful mystery.
Man yields to his yoke, without understanding why.
All that he sees is short-lived, pointless and fleeting.
I will not watch the golden close of evening,
Nor the sails that glide towards Harfleur,
And, when I arrive, I will lay on your grave
A bouquet of green holly and heather in bloom.
I will set out. I know you are waiting for me.
I will travel through the forest, and over the mountains,
I can no longer remain far from you.
I will walk with my eyes fixed upon my thoughts,
Seeing nothing around me, hearing no sound.
Alone, friendless, my back curved, my hands crossed,
And the day, for me, will be as the night.
Now that Paris, with its cobbles and marble,
And its hazy rooftops are so far from my eyes;
Now that I am beneath the branches of the trees,
I can marvel at the beauty of the skies.
Now brought to a standstill by these divine visions,
Plains, rocks, forests, valleys and silver streams,
Seeing my insignificance, and seeing your miracles,
I come to my senses before this immensity.
We only ever see one side of a story;
The other side is plunged into dark and fearful mystery.
Man yields to his yoke, without understanding why.
All that he sees is short-lived, pointless and fleeting.
I will not watch the golden close of evening,
Nor the sails that glide towards Harfleur,
And, when I arrive, I will lay on your grave
A bouquet of green holly and heather in bloom.
Pas si simple
Je
suis si simple que tu ne peux même pas me décrire.
Que
veut dire un grain d’âme dans moi ?
Je
me métamorphose en tout objet, en toute personne.
I am so simple that you can’t even describe
me.
What’s
the meaning though a grain soul in mine?
I
metamorphose into all kind of objects, into people.
Jakarta, 11 desember 2012.
Monday, May 21, 2012
Mengarang saja
Sebetulnya aku bisa saja menuliskan apapun kemudian menganggapnya sebagai puisi. Namun aku sedang tidak bersahabat dengan kata-kata. Hingga setiap yang ditulis menjadi asing di tangan sendiri.
Jakarta 2012.
Repost sajak seorang teman.
Barangkali aku ingin menulis puisi di kala hujan
barangkali, hari ini aku ingin menulis puisi tentang hujan yang jatuh seperti daun – daun, tentang akarnya: laut yang entah. maka, kuambil kertas dan pulpen, membayangkan kata – kata yang puisi atau mencoba tampak seperti puisi. tapi aku gagal, aku lebih suka duduk di teras, mengamati burung yang hinggap di kabel telepon, membayangkan burung itu adalah suaramu yang menghinggapkan kabar, lalu membentangkan sayap. mengepak. menciptakan sobekan – sobekan di udara.
barangkali, aku tulis saja puisi tentang burung itu. tapi tidak, aku lebih suka mengingatmu yang puisi, puisi yang hanya tampak saat aku kehilangan.
kemudian hujan jatuh lebih keras saat aku mengingatmu, sehingga pecahan – pecahannya sampai ke dada.
kemudian hujan jatuh lebih keras saat aku mengingatmu, sehingga pecahan – pecahannya sampai ke dada.
barangkali, aku hanya ingin menangis dalam puisi. sebab bila tak dalam puisi, aku tak mampu menangis sekadarnya.
Jakarta, 2012
(Thanks Nugie, merasa terwakili oleh puisi ini).
Monday, November 14, 2011
Sudah, Itu Saja....
Tidak ada yang sulit untuk mengenakan hijab,
Kecuali kamu sendiri yang menyulitkannya.
Jika kamu menunda mengenakannya hanya karena merasa belum pantas dengan sikapmu, itu kau sendiri yang tidak pernah mau memantaskan dirimu.
Jika kamu menunda mengenakannya hanya karena merasa belum pantas dengan sikapmu, itu kau sendiri yang tidak pernah mau memantaskan dirimu.
Jilbab adalah ayah yang senantiasa mengingatkan agar kau seimbang tanpa harus marah-marah.
Jika kamu belum berhijab karena menunggu 'kesempurnaan' hati, mungkin selamanya kamu tidak sampai pada titik itu. Sebab siapa yang pernah merasa sudah sempurna merawat hati?
Sementara perbaikan sikap dan hati adalah proses yang tidak pernah selesai.
Kamu bisa menjadi manusia bebas, yang memilih....
Tidak berjilbab yang penting hati dan sikapmu baik,
Tidak berjilbab dan tidak perlu menjaga sikap,
Berjilbab namun hati dan sikapmu buruk,
Berjilbab namun hati dan sikapmu buruk,
Atau berjilbab sambil terus berusaha memperbaiki kualitas diri.
Tidak ada yang berhak memintamu dengan paksa untuk menjadi siapapun. Semesta tahu itu.
Namun hatimu, diam-diam pasti tahu mana tingkatan yang paling baik untuk diusahakan.
Tanyalah......
Satu hal yang aku coba pahami tentang apa itu menjadi baik adalah....
Bukan mereka yang tidak pernah berbuat salah, tetapi mereka yang bersegera bangun dan memperbaiki diri ketika jatuh pada kesalahan.
Sudah, itu saja...
Sunday, November 6, 2011
Kepada Hati Yang Berkaca
Kegundahan ini, ingin kusudahi saja,
melalui angin ia memberi tanda...
menggoyangkan butir embun di pangkal kelopak mimosa,
mematahkan ranting-ranting belum tua,
memercik-mercik air di pinggiran kolam,
hingga menyeret punggung tangan pada tembok tak rata.
Namun hingga rindu-rindu ini membatu dan air mata yang mengkristal kusapu,
Kau tak juga menoleh.
(kepada hati yang berkaca)
melalui angin ia memberi tanda...
menggoyangkan butir embun di pangkal kelopak mimosa,
mematahkan ranting-ranting belum tua,
memercik-mercik air di pinggiran kolam,
hingga menyeret punggung tangan pada tembok tak rata.
Namun hingga rindu-rindu ini membatu dan air mata yang mengkristal kusapu,
Kau tak juga menoleh.
(kepada hati yang berkaca)
Published with Blogger-droid v2.0
Monday, September 19, 2011
We Have A Contract, You and I
“We have a contract, you and I : not to win when victory is possible,”
-The Valkyrie, Paulo Coelho-
Adakah perjanjian seperti ini?
Seseorang mengatakan tidak mungkin sebab akan menghilangkan motivasi masing-masing untuk melaksanakan kompetisi itu.
Tapi sepertinya untuk cinta dan kemanusiaan, semua menjadi mungkin. Manusia bisa saja meninggalkan egonya di dalam laci.
Sempurna! :)
-The Valkyrie, Paulo Coelho-
Adakah perjanjian seperti ini?
Seseorang mengatakan tidak mungkin sebab akan menghilangkan motivasi masing-masing untuk melaksanakan kompetisi itu.
Tapi sepertinya untuk cinta dan kemanusiaan, semua menjadi mungkin. Manusia bisa saja meninggalkan egonya di dalam laci.
Sempurna! :)
Sunday, September 18, 2011
Kamukah? Est-ce toi?
[seringkali aku membuka jendela bukan karena ada burung yang bernyanyi...
tapi karena aku merasa
kau baru saja ada di baliknya...]
J'ai ouvert des fois la fenetre.
Ce n'est pas parce qu'il y avait des oiseaux chantaient.
C'est parce que je croyais que
tu étais la.
Saturday, September 17, 2011
Semenjak
Kamu ingin aku menemuimu di kursi taman.
Ketika itu kamu sudah di sana, terdiam lama sekali.
Kamu meminta maaf padaku satu kali, kemudian termenung lagi.
Katamu dia datang lagi...
Dia yang kau pikir telah menyerpihmu menjadi remah-remah cinta yang tidak perlu diingat, tiba-tiba hadir seperti rumah kenangan yang menawarkan kunci putihnya untuk kau buka.
6 tahun. Aku membayangkan banyaknya kenangan yang kalian miliki, yang mungkin tidak saja tersimpan melainkan terjahit kuat pada ingatan.
Aku memikirkan apa yang sedang kau pikirkan, sambil sibuk menenangkan hati yang sepertinya ingin meledak, atau mungkin sudah, hanya saja tak terlihat.
Kamu meminta izin berpikir.
Tidak ada waktu dan aku hanya bisa menunggu.
Hingga hari ini bulan berganti lagi, aku masih di tempat yang sama, tidak kemana-mana.
Aku tidak bisa berpikir, apakah aku sudah menunggumu terlalu lama, atau masih terlalu sebentar. Aku mulai mengkhawatirkan kamu yang mungkin saja tertawan. Tersesat pada masa lalu dan tak menemukan jalan pulang, menemukan sedikit aku.
(17.30, di suatu sore yang murung)
Ketika itu kamu sudah di sana, terdiam lama sekali.
Kamu meminta maaf padaku satu kali, kemudian termenung lagi.
Katamu dia datang lagi...
Dia yang kau pikir telah menyerpihmu menjadi remah-remah cinta yang tidak perlu diingat, tiba-tiba hadir seperti rumah kenangan yang menawarkan kunci putihnya untuk kau buka.
6 tahun. Aku membayangkan banyaknya kenangan yang kalian miliki, yang mungkin tidak saja tersimpan melainkan terjahit kuat pada ingatan.
Aku memikirkan apa yang sedang kau pikirkan, sambil sibuk menenangkan hati yang sepertinya ingin meledak, atau mungkin sudah, hanya saja tak terlihat.
Kamu meminta izin berpikir.
Tidak ada waktu dan aku hanya bisa menunggu.
Hingga hari ini bulan berganti lagi, aku masih di tempat yang sama, tidak kemana-mana.
Aku tidak bisa berpikir, apakah aku sudah menunggumu terlalu lama, atau masih terlalu sebentar. Aku mulai mengkhawatirkan kamu yang mungkin saja tertawan. Tersesat pada masa lalu dan tak menemukan jalan pulang, menemukan sedikit aku.
(17.30, di suatu sore yang murung)
Lima Ratus Juta Lonceng
Suatu hari, ketika kau merasa kehilangan.
Sementara kalimat-kalimat dari buku jemariku kelelahan mengisahkan.
Ku harap kau tak pejam...
Sebab ada lima ratus juta lonceng yang kita simpan pada lumbung ingatan.
Mereka terus berbunyi di sepertiga malam.
Membelah Arasy yang gemetar.
Dan sebelum kau jatuh lebih dalam pada lutut kesedihan,
burung manyar telah lebih dulu mengadukan sepimu pada kaki Tuhan.
Sementara kalimat-kalimat dari buku jemariku kelelahan mengisahkan.
Ku harap kau tak pejam...
Sebab ada lima ratus juta lonceng yang kita simpan pada lumbung ingatan.
Mereka terus berbunyi di sepertiga malam.
Membelah Arasy yang gemetar.
Dan sebelum kau jatuh lebih dalam pada lutut kesedihan,
burung manyar telah lebih dulu mengadukan sepimu pada kaki Tuhan.
Friday, September 16, 2011
Sunday, September 4, 2011
Api Kecil Si Sajak Rindu
Kudapati malaikat memanggul matahari di sayapnya, menuju persinggahan hatimu yang gelap terikat penantian
Seperti pendar yg berhenti mengucurkan sepi dari buku jemari.
Pada kebencian banyak anak manusia, kurindukan benih kepedulian yang mungkin tumbuh suatu ketika
Di setiap air mata yang ku larung, selalu kutemui remah daun kering anak musim yang tak lelah mengusapnya
Air mata menggandakan bebannya, kuat menghantam siluet diri sendiri, yang tak sengaja membuatmu tiada
Pagi terisak, kehilangan senyum milikmu yang kini hening di balik pusara
Ketika aku mencintaimu, pendar api berhenti menari.
Aku ingin pergi dari penantian meski aku khawatir baru menunggumu terlalu sebentar.
Burung gereja dan burung manyar;keduanya menertawakan kita yang begitu malu, untuk merindu.
Masih perlukah cinta bertengkar seperti dua puluh dua api yang menari di ujung musim hujan.
Kita masih bisa merayakan cinta, di pusaramu. Aku bawa serta kupu-kupu seperti yang sudah-sudah.
Seperti pendar yg berhenti mengucurkan sepi dari buku jemari.
Pada kebencian banyak anak manusia, kurindukan benih kepedulian yang mungkin tumbuh suatu ketika
Di setiap air mata yang ku larung, selalu kutemui remah daun kering anak musim yang tak lelah mengusapnya
Air mata menggandakan bebannya, kuat menghantam siluet diri sendiri, yang tak sengaja membuatmu tiada
Pagi terisak, kehilangan senyum milikmu yang kini hening di balik pusara
Ketika aku mencintaimu, pendar api berhenti menari.
Aku ingin pergi dari penantian meski aku khawatir baru menunggumu terlalu sebentar.
Burung gereja dan burung manyar;keduanya menertawakan kita yang begitu malu, untuk merindu.
Masih perlukah cinta bertengkar seperti dua puluh dua api yang menari di ujung musim hujan.
Kita masih bisa merayakan cinta, di pusaramu. Aku bawa serta kupu-kupu seperti yang sudah-sudah.
Friday, August 26, 2011
Vingt-Deux Feu Qui Dansent~ Dua Puluh Dua Api yang Menari
Mengapa tidak kau kabarkan kepergianmu? Hanya burung gereja yang gagal menyembunyikan : Ia tak lagi bernyanyi di tempatnya. Menemanimu di atas pusara dengan kupu-kupu mengitarinya.
Esok sepagi yang orang tak bisa. Jauh sebelum matahari berpikir untuk membuka mata, aku akan mencari pusaramu untuk menyampaikan tawa yang terlambat, yang seharusnya kau dengar sebelum kita mencemburui yang tak perlu. Aku berjanji untuk tidak menangisimu. Pundak semesta tak akan mampu menampung derasnya.
PENDAR KOTA MERAH
Lemparan granat sebentuk pelangi, tertawa menjejali langit, menandakan cinta yang tak pernah menari.
Jangan dulu mati, sebelum kita membuang bedil pada tembok tinggi gairah darah yang membumbungkan cinta dengan air mata.
Pendar warna menyala, mengaliri tanah kering. Subur oleh gincu, penanda manusia-manusia kehabisan cinta.
Cinta adalah peluru yang kerap rindu menjenguk kotaku. Menebar harum bubuk mesiu di sayap garuda para pejuang bangsaku.
#7kata
Benciku seperti air beriak. Tak pernah dalam #7kata
Tuhanpun milik mereka yg kau bilang pendosa #7kata
Hanya kepada sajadah, rinduku bisa begitu bersuara. #7kata
Aku pagi yang menjelma bintang begitu semesta #7kata
Aku pagi yang menjelma bintang begitu semesta #7kata
Thursday, August 4, 2011
REMAH DAUN KERING ANAK MUSIM
REMAH DAUN KERING ANAK MUSIM
Secerah tawa merpati bisu yang menari di atas bunga Geranium ketika senja baru bersandar. Begitu senyummu barusan.
Setiap detik ketika kita melupakan Tuhan, maka ia menjadi menit-menit yang terjumlahkan. Hingga semua mnjadi semakin jauh dari Nya.
Pena kecil...merindu mereka yang mungkin tak begitu sering memasukkan dirinya ke dalam daftar orang yg patut dibahagiakan.
Ada kata-kata yang baru saja tidak kukatakan. Semoga kau dengar lirihnya di mataku
Kau tak perlu menghulukannya di mata mutiaramu. Kebun jiwamu hanya akan mengering karena pekat cintanya tak pernah usai untukku
Airmatamu adalah titik nadir yg merubah padang jiwa emosiku menjadi telaga bening.
Menjauhiku dengan segala cintaku adalah sia-sia. Seperti menghalangi cahaya tanpa dapat menghilangkan mataharinya.
Merindukan yang tidak seharusnya dirindukan adalah cobaan. Seperti cinta merah senyala senja yang harus meredup saat terbenam
Untuk setiap pertemuan yg menerbitkan senyum, aku ingin mengingatnya lama-lama. Sebab perpisahan, selalu mampu mencurinya tiba-tiba.
Apa kau bisa memastikan bahwa hujan sepagi ini, bukan air matamu yang sesap kemudian perlahan, atas ketidakmampuanmu mengembunkan hatinya?
Juni adalah memoar luka. Sayangnya aku tak pernah bisa membawanya..mundur ke beberapa detik sebelum semua berakhir.
saya merindukan setiap kedekatan kita, yang tidak pernah terjalin.
Entah apa lagi yang bisa kusampaikan. Jika semua kata telah kau curi maknanya. Lalu kau larung begitu saja pada air mata rindu.
Mencintaimu adalah hakku. Sedang mencintaiku bukanlah keharusan.Harapan? Dia hanya hal yg lahir bersamaan ketika aku menjatuhkan pilihan.
Suatu waktu, mungkin aku yang akan meminta langit sore agar hujan. Tidak perlu si suasana hati. Yang seringkali begitu labil.
Jika setiap rasa takjubku pada seseorang malah menjauhkanku dari pemilikku. Maka itu buruk.
Tersenyum adalah cara terbaik menghilangkan efek pujian yang tak pernah pasti apa maksudnya.
Tuhan, ruang cinta yang belum sempurna kuurai.
Jangan biarkan aku bergantung. Dan jangan biarkan mata ini menangis, Rabb, pemilikku. (18 july 2011, 02.31 dini hari)
Terlalu banyak pertanyaan, dan terlalu sedikit jawaban.
Sebab tanganku hanya sanggup menulis puisi. Aku kuncup yang kehilangan kemampuan untuk bersemi.
Apa yang mereka lakukan seperti berusaha menghilangkan terang cahaya yang menyilaukan mereka tetapi sebenarnya mereka tidak menghilangkan mataharinya
Mengalahkan rasa untuk tak saling sapa. Bahkan aku lupa, dimana kujatuhi cinta. Yang terakhir ku tahu, aku luka.
Yang selalu dikumandangkan melalui sunyi, adalah cinta ibu dan ayah. Betapa bintang. . . . :) .
Kita tidak saling menoleh. Baik hatiku, atau hatimu. Kita pun tidak bisa bertemu, karena Tuhan bilang tidak (sepertinya)..
Satu kejadian, entah memiliki kekuatan apa, ia mengeluarkan dirinya, menjelma jutaan makna baru. Telaga kering mendekap mereka .
Malam tadi, ku jentikkan rindu berurai melalui sajak-sajak bodoh yang kupikir akan melontarkan diriku kepada hatimu.
Selalu. Aku memenjarakan rindu sendirian, tanpa kamu.
Sendiri, aku tak dapat seimbang.
Pada seribu senja, dan jutaan butir pasir, ada satu remah cinta lama yang tak ingin dicari.
Kamu mungkin tidak sadar bahwa pelangi dari dulu putih sebelum ia lihat senyum milikmu tadi pagi :)).
Masihkah kau ingin memisahkan kupu-kupu dari warnanya, saat ada yg tak henti menyulamkan warna baru dan membebat lukamu?
Nyinyir dan bertikai atas rindu. Mencoba berbohong sekali lagi agar hatiku tak jatuh. Cukup terakhir kali ia tersengal.
Kata-kata. Tangis atau tawa semua berhulu dari itu.
Rindu adalah saat hati merasa tersayat padahal tidak ada yg berdarah.
Aku ingin pergi dari penantian, Momo.Tapi jika begitu, aku khawatir kita tidak bertemu, karena aku menunggu terlalu sebentar. Atau malah menunggu terlalu lama.
Momo, kita punya segudang impian dan beberapa hambatan. Aku tahu kamu tahu bahwa aku sudah tahu tentang itu.
Aku merinduimu dalam-dalam, di balik sajak doa dengan hamparan sajadah yang telah basah di sepertiga malam.
Aku ingin sanggup menahan sakit seperti apapun selama dapat duduk di atas kenangan tentang kita.
Senyum kebahagiaan kalian adalah teror paling primitif di setiap tidur pendekku yang justru menajam saat aku pejam.
Jangan coba kau bebat luka yang kau buat. Waktu saja menyerah mengobatinya. Lukaku telah begitu nyata.
Suatu hari, kau akan menangisinya yang terlambat kau cintai, seperti hujan di senja bulan Desember
Kau menolak? Setahuku dalam kisah jatuh cinta diam-diam ini,aku menaklukanmu. Karanganku tidak pernah begini sempurna.
Thursday, June 2, 2011
entahlah
Hari ini entah kenapa penuh rindu yang mendesak sama dek Maghfi dan mba Diyah.
Untuk menuruti kangen saya seringkali cek di social web tempat mereka biasa ada. FB atau twitter. Khusus adek, barusan saya mengunjungi blognya. Selalu menyenangkan baca blognya adek. Pujian ini serius. Apalagi di postingan2 terbarunya. Terlihat ada perkembangan, yang buat gue semakin yakin adek benar-benar berbakat untuk menulis. Berbakat menurut pandangan saya bukan yang kata-katanya berbuih-buih penuh keeleganan yang dibuat-buat. Tetapi lebih kepada mengalir atau tidak tulisannya. Jujur saya belum bisa. Hwehehehe.
Tulisan saya masih tersendat, kaku, oh atau ibaratnya got mampet. (Gak keren analoginya -,-)
Kita lewat soal saya.
Post yang menyenangkan adalah saat tahu adek sudah menemukan jalannya untuk menulis. Happy for her. I really am. Doakan semoga saya juga cepat menemukan titik temu itu.
Adek, sehat-sehat ya. Kak ara juga bingung kenapa mau ketemu adek susah sekali semenjak pulang dari Italy. Begitu banyak halangan dan rintangan membentang (lebay juara). Tapi kak ara gak sedih, karena tahu sibuknya adek selalu positif. Hope to see u soon dek. Terima kasih untuk setiap status message di BBM, Twitter yang adek tujukan untuk kak ara.
Ohya, dan syafakillah untuk mba diyah. <3
Untuk menuruti kangen saya seringkali cek di social web tempat mereka biasa ada. FB atau twitter. Khusus adek, barusan saya mengunjungi blognya. Selalu menyenangkan baca blognya adek. Pujian ini serius. Apalagi di postingan2 terbarunya. Terlihat ada perkembangan, yang buat gue semakin yakin adek benar-benar berbakat untuk menulis. Berbakat menurut pandangan saya bukan yang kata-katanya berbuih-buih penuh keeleganan yang dibuat-buat. Tetapi lebih kepada mengalir atau tidak tulisannya. Jujur saya belum bisa. Hwehehehe.
Tulisan saya masih tersendat, kaku, oh atau ibaratnya got mampet. (Gak keren analoginya -,-)
Kita lewat soal saya.
Post yang menyenangkan adalah saat tahu adek sudah menemukan jalannya untuk menulis. Happy for her. I really am. Doakan semoga saya juga cepat menemukan titik temu itu.
Adek, sehat-sehat ya. Kak ara juga bingung kenapa mau ketemu adek susah sekali semenjak pulang dari Italy. Begitu banyak halangan dan rintangan membentang (lebay juara). Tapi kak ara gak sedih, karena tahu sibuknya adek selalu positif. Hope to see u soon dek. Terima kasih untuk setiap status message di BBM, Twitter yang adek tujukan untuk kak ara.
Ohya, dan syafakillah untuk mba diyah. <3
Subscribe to:
Posts (Atom)

